Mesin Honda BR-V Dites Minimal 100 Jam Nonstop

posted in: Berita Mobil | 0 | Author : OTOMART

OTOMART, Jakarta – Dengan diresmikannya fasilitas Engine Test Bench oleh PT. Honda Prospect Motor (HPM), kini mesin-mesin produksi Honda bisa dilakukan pengujian di pabrik Karawang, Jawa Barat. Hal ini berbeda dengan sebelumnya yang harus mengirim mesin ke Thailand, India atau Jepang untuk ditest. Di fasilitas baru ini, semua mesin Honda, termasuk crossover terbaru yang akan diluncurkan awal 2016, BR-V, mesinnya akan diuji minimal 100 jam secara nonstop.

Disebutkan Yurdha Gustama, Section Head Engine Test Bench HPM, di pabrik Honda Karawang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, mesin yang diuji mulai dari kapasitas 1.200 cc hingga 2.400 cc. “Minimal harus melewati 4 tahapan, hot dan cool test, performance test, over high speed test dan high speed test. Performance tes, mesin dinyalakan selama 100 jam, hot and cool tes 600 jam serta over high speed dan high speed test 400 jam,” ujar Yurdha.

PT Honda Prospect Motor (HPM) juga akan membuka fasilitas produksi crank shaft atau poros engkol di pabriknya. Komponen ini diproduksi di Indonesia untuk memenuhi peraturan pemerintah tentang mobil Low Cost Green Car (LCGC), agar kandungan komponen lokal pada Brio Satya meningkat. Crank shaft ini merupakan bagian dalam mesin yang mengubah gerakan naik turun piston menjadi gaya rotasi untuk menggerakkan roda mobil.

“Nantinya komponen lokal Brio Satya akan mencapai 85 persen,” tukas Jonfis Fandy, Marketing & Aftersales Service Director HPM. Fasilitas produksi crank shaft ini akan berdiri di atas lahan seluas 7.000 m2 di dalam area pabrik PT HPM Karawang. Pabrik ini nantinya akan memiliki kapasitas produksi hingga 1.000 unit per hari atau 243.000 unit per tahun.

Tak hanya crank shaft, HPM juga akan membangun pabrik komponen Connecting Rod yang beroperasi pada 2018. Sama halnya dengan crank shaft, fasilitas produksi connecting rod juga digunakan untuk menambah kandungan lokal pada LCGC. Nantinya, pabrik ini akan berdiri di atas lahan seluas 4.000 m2 dengan kapasitas produksi 1.000 unit per hari atau 243.000 unit per tahun.

Tak hanya Brio Satya, mobil-mobil lain pun akan memanfaatkan crank shaft buatan lokal, salah satunya adalah BR-V. “Semua model yang diproduksi di Indonesia pakai crank shaft di fasilitas ini. Crank shaft juga digunakan untuk BR-V,” imbuh Jonfis. Namun, untuk produksi pertama BR-V masih menggunakan crank shaft diimpor. “Produksi awal BR-V sementara kami impor dulu crank shaft-nya. Setelah 2016, baru kita pakai produksi lokal,” tutup Jonfis.

temukan mobil impian anda

Berita mobil terkait

Festival Astralavista, Ada Promo Cashback Mobil88 Hingga Rp10 Juta

OTOmart – Salah satu showroom mobil bekas terkemuka di Indonesia, Mobil88 menggelar Astralavista yang...

Mobil Xpander Bekas Masih Sedikit Dibanding Avanza Bekas

OTOmart – Semenjak kemunculan pertamanya di ajang GIIAS pada Agustus 2017 lalu, Mitsubishi Xpander...

Toyota Tolak Avanza Laris Karena Promo Mobil Akhir Tahun 2018

OTOmart – Sejak dua bulan terakhir, penjualan mobil Toyota Avanza berhasil mengungguli rival terberatnya,...

Kalahkan Xenia, Sigra Jadi Tulang Punggung Penjualan Retail Daihatsu

OTOmart – PT Astra Daihatsu Motor (ADM) hingga November 2018 lalu dikabarkan telah meraih...

Begini Tanggapan Penjual Mobil Bekas Terhadap Toyota Avanza Terbaru

OTOmart – Sejak beredar kabar mengenai kemunculan Toyota Avanza terbaru dengan model facelift yang...

Tips Gunakan Gigi Rendah Pada Sistem Transmisi Otomatis

OTOmart – Pernahkah Anda merasa telah melakukan hal yang benar saat menggunakan transmisi gigi...